Tinjauan penciptan manusia dari segi budaya
BAB IV KEJADIAN 1: 26-27 DI TINJAU DARI PENCIPTAAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF BUDAYA NIAS
Pengenalan Akan Budaya Nias Tentang Penciptaan Manusia
Orang Nias memiliki keyakinan pada dua dewa yaitu “Lowalangi” di yakini sebagai dewa alam atas, sumber segala yang baik, dan dewa “Lature Danö” sebagai dewa alam bawah yang pada umumnya menggunakan segala yang jahat. Yang menentukan hidup dan matinya manusia adalah “Lowalangi”, juga menentukan kepala-kepala suku, berada di mana-mana, segala sesuatu dan menghukum yang jahat. Sedangkan Lature Danö ”menjadi sumber segala yang jahat, mendatangkan penyakit gempa bumi, angin ribut dan lain-lain. Dalam kultus “Lowalangi” diberikan lambang burung dan ayam-burung enggang dan garuda atau juga terang dan matahari. Sedangakan “Lature Danö” dilambangkan dengan naga bulan dan kegelapan. “Lature Danö” memiliki lambang warna hitam dan merah sedangkan “Lowalangi” memiliki lambang warna kuning keemasan. [1] Sebagai orang Nias yang tinggal di Nias maupun di luar pulau Nias, harus menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang telah ada. Sebab itu adalah warisan dari nenek moyang di Nias. Melalui budayanya, orang Nias mengenal jati dirinya sebagai orang yang memiliki keyakinan akan lebih tinggi yang disebut dewa (Lowalangi) yang percaya pencipta segala sesuatu termasuk manusia di dalamnya. Pada awalnya terjadi kekacauan (peristiawa chaos) di kediaman Lowalangi. Diturunkanlah manusia di bumi ini (di Nias) yang dikenal dengan sebutan bapa-asal yaitu ada empat di antaranya, Hia, Gözö, Hulu dan Daeli. Menurut kepercayaan orang Nias Lowalangi adalah sebagai pencipta, yang kemudian hari oleh para misionaris mengambil istilah tersebut untuk menerjemahkan kata Tuhan dalam Alkitab. Jadi dengan demikian kekacauan buruk berarti buruk / jelek melainkan indah / baik. Sebab, baik Alkitab maupun budaya (dalam hal ini budaya Nias) di katakana bahwa awalnya terjadi kekacauan (chaos). Dari keadaan yang demikian Tuhan / Lowalangi yang di yakini sebagai pencipta, memulai kehidupan dengan menciptakan semuanya termasuk manusia. Barangkali tujuan utama manusia adalah untuk melanjutkan penataan ulang / untuk terus menata chaos tersebut hingga tidak ada lagi chaos / kekacauan. Penciptaan Manusia Dalam Perspektif Budaya Nias Dari Komparasi Penciptaan manusia dalam Kej. 1: 26-27 dengan Budaya Nias maka penulis memberikan beberapa perbedaan dan. Perbedaan: Alitö menggunakan material manusia adalah debu dan tanah sedangkan bahan Nias yang di gunakan adalah Alitö dan angin (berdasarkan versi Thomas), 30 angin berkumpul (berdasarkan versi dari Sundermann). Pada proses tata dalam Alkitab melalui firman Allah dan membuat manusia, sedangkan dalam budaya prosesnya mempersembahkan “noso” atau nyawaoleh Baliu (versi dari Sundermann), mengumpulkan 30 angin oleh Baliu (versi dari Thomas) Urutan dalam Alkitab: Allah berfirman setelah itu membuat manusia dalam gambarNya. Sedangkan dalam budaya: 30 angin bergabung dengan dua pohon, dari pohon kedua melahirkan “Tora'a” yang menjadi cikal bakal manusia (versi dari Sundermann), api menghasilkan satu Roh (Tuha aloloa nangi), dari pada roh itu lahir pohon “Pohon Tora'a ”(versi Thomas). Menjadi cikal bakal manusia. Hasil dalam Alkitab adalah Adam dan Hawa (manusia pertama) sedangkan hasil dari budaya menjadi leluhur orang Nias adalah Sirao yang menjadi leluhur orang nias, sebagai manusia pertama. Tujuan dalam Alkitab adalah Manusia dasar, sedangkan dalam budaya manusia diciptakan dengan tujuan berdasarkan versi dari Sundermann yaitu melanjutkan proses kehidupan sedangkan berdasarkan versi dari Thomas adalah kekuasaan di bumi. Kesamaan: Yang menjadi inti dari kisah sukses manusia Alkitab atau perspektif adalah bahwa yang menciptakan manusia yaitu Allah / Lowalangi. Penciptaan baik dalam Alkitab (Kej. 1: 2) maupun dalam perspektif budaya (Nias) kekacauan (chaos) telah mendahului. [2] Berangkat dari misionaris kedua Sundermann dan Thomas pemeran utama pada kelompok berdasarkan budaya Nias adalah Lowalangi. Sekalipun menurut Thomas Lowalangi pada kelompok di bantu oleh Baliu. Pada bagian sebelumnya telah menyatakan bahwa bahwa manusia dalam perspektif budaya Nias diciptakan dari lahirnya pohon kehidupan (yang dikenal dengan nama pohon Tora'a). Pada versinya, Sundermann dari peristiwa Chaos berkumpullah 30 angin dan menghasilkan dua pohon (ini berarti menurut Sundermann, di Nias terdapat dua atau lebih keturunan yang berbeda). Pohon pertama menjadi bagian pada “Lature Danö” yang sekarang di yakini sering mengusik kehidupan manusia di Nias, dan pohon yang kedua melahirkan tiga kuntum. Tetapi hanya kuntum yang ketiga yang terus berkembang yaitu pohon Tora'a dan dari pohon inilah muncul yang di sebut Tuha nilölö nangi, atas bantuan Lowalangi yang anggota hidup dan Baliu memberi “Noso” atau nyawa. Dari padanyalah semua manusia berasal, hingga yang di sebut “Sirao”. Alkitab sebagai hasil dari bentukan budaya yang telah mengalami perkembangan tahap dan pengasahan dari zaman maka Alkitab memberikan gamabaran yang sama tentang kasih yaitu dari peristiwa “chaos”. Sehingga dapat dipungkiri bahwa Alkitab bukan budaya, menyempurnakan kebudayaan yang ada. Yang menjadi pertanyaan adalah, jikalau Alkitab adalah hasil benukan budaya, mungkinkah Alkitab meningkatkan kebudayaan dalam kepercayaan bahkan seluruh kehidupanpan manusia sebagai makhluk berbudaya? Richard Nieburh dalam penelitiannya atas sikap gereja terhadap budaya sangat mendobrak eksistensi kekristenan di tengah-tengah budaya yang pada umumnya mengklaim bahwa budaya adalah kafir, budaya yang sangat mendobrak eksistensi kekristenan di tengah-tengah budaya yang pada umumnya tidak sesuai dengan Alkitab. Kalau diperhatikan, sebelum Alkitab terbentuk, terlebih dahulu budaya telah merasut kedalam jiwa manusia, bandingkan dengan Adam dan Hawa, budaya membunuh telah ada pada keturunan mereka, budaya ingin tahu telah ada. Dengan demikian, kekristenan tidak mengerti budaya, melainkan kekristenan dari budaya. Sebab ketika manusia berbudaya, manusia mencari dan mengenal keyakinan mereka masing-masing berdasarkan budaya tersebut sehingga mereka merumuskannya menjadi tradisi mereka hingga membentuk satu kepercayaan. demikian pula dengan Alkitab. Sebuah kutipan dalam buku “God and Culture” DA Carson dan Jhon D. Woodbridge, Editor, mengutip dari tulisan Hallowel berjudul The Histori Antropolgy, terbitan University Of Chicago, demikian: Semua kebudayaan memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan antropologi, dan jawaban tersebut memiliki otoritasserta berwujud final. Pengetahuan tradisional seperti ini dapat dicirikan sebagai antropolaogi rakyat, yaitu bangunan pengamatan, kepercayaan dan dogma-dogma sosial yang sejajar dengan pengetahuan rakyat tentang aspek-aspek lain dari fenomena dunia. Dalam kebudayan barat jaman dahulu, pengetahuan yang diwakili oleh pandangan hidup tradisional Kristiani sebagai antropologi rakyat… [3] Dari pada itu jika manusia dikatakan dalam Alkitab segambar dan serupa dengan Allah (kej. 1:27), pandangan budaya juga demikian. Sebab pencipta atau dewa dalam pandangan budaya (Keyakinan orang Nias akan pencipta) menyatakan bahwa manusia diturunkan oleh dewa ke bumi (berdasarkan miologi Nias) yang dalam versi para misionaris manusia lahir menjadi makhluk hidup dengan bantuan Lowalangi. Hal ini ketika Allah menciptakan manusia dari debu dan tanah (kej. 2: 7) sejajar dengan kaca mata budaya bahwa manusia memberikan nyawa (bhs. Nias: Noso), sehingga menjadi hidup. Alkitab bagi budaya Nias adalah dokumentasi terbesar selain apa yang orang Nias temukan dalam berbudaya. Sebab memuat banyak hal tentang kehidupan di dunia ini. Dikatakan bahwa pencipta menurut Allkitab adalah Allah / Elohim namun orang Nias dengan budayanya memahami elohim tersebut dengan antropolgi rakyat, barangkali di sini kepercayaan mereka itu menjadi teologi operasional mereka terhadap tuhan / yang dikenal yang maha tinggi (di penguasa alam atas). dari itu kita melihat untuk memahami kata Lowalangi dalam bahasa Nias. Lowalangi berdasarkan etimologi Nias adalah penguasa langit. Sehingga dikenal sebagai Tuhan bagi kekristenan saat ini di Nias (terjemahan Alkitab atas nama Tuhan). Oleh misionaris yang datang ke Nias menemukan nama Lowalangi bagi kepercayaan orang Nias pada zaman dahulu, entah mereka kesulitan dalam menerjemahkan nama Tuhan / elohim, dalam Alkitab ke bahasa Nias atau unsur politik di dalamnya untuk memudahkan penginjilan atau menghargai budaya yang ada di Nias maka nama Lowalangi digunakan untuk menyebut nama Tuha dalam bahasa Nias. Lowalangi sebagai tokoh utama pada pohon kedua [4] yang diagungkan dan nama yang dipilih sebagai nama Allah dalam agama orang Kristen. Lowalangi adalah tokoh utama dari grup manusia. Pada pohon yang melambangkan suku bangsa yang menyebut dirinya Niha (manusia), sedangkan pada pohon yang pertama menjadi roh-roh jahat yang menjadi turunan dewa Danö yang sekarang disebut daam bahasa Nias “Bekhu”. Sirao is the person is person to the keturunan dari Tuha Nilölö nangi. Sampai pada tahap ini, mitologi Nias berakhir hingga saat ini Sirao dikenal sebagai leluhur orang Nias. Secara keseluruhan dari mitologi Nias di runut from the order maka sebagai berikut: chaos-bergabunglah 30 angin-dua pohon timbul-pohon kedua melahirkan tiga kuntum-pohon tora'a (pada kuntum ke-3) -Tuha nilölö nangi- Lowalangi dan Baliu bekerja sama ciptakan manusia-Tuha börö zesolo-dua silsilah-pada silsilah kedua lahir dari keturunan Hingga Sirao. Siraolah dikenal sebagai leluhhur manusia sekarang (versi Sundermann). sedangkan versi Thomas dimulai dari tokoh Tuha-Sihai-api-rohTuha-Aloloa nangi-Tora'a-dari akar pohon Tora'a-lahirlah Sirao. Pada versi Thomas, antara Lowalangi dan lature Danö terjadi pertentangan hingga perang, untuk memperbutkan dua kuntum bunga dari pohon Tora'a. di sinilah Lowalangi berhasil menjadikan manusia bersama-sama dengan Baliu memberi manusia kehidupan. Inilah keunikan dalam budaya kita sebab kemungkinan-kemungkinan yang ada akan mengungkapkan keyakinan kita terhadap tuahn. Ternyata manusia berdasarkan budaya berguna hanya sebagai barang atau benda tak berguna, sangat berharga. Karena pencipta manusia memperjuangkannya karena penciptanya melihat bahwa yang tercipta itu bisa hidup. Sehingga diberikan nyawa kehidupan (bhs. Nias: Noso Fa'auri). Asal-usul Manusia Berdasarkan Budaya (Mitologi Nias) Jika sejak awal dikatakan pada tulisan ini bahwa manusia menurut mitologi Nias (budaya) adalah diturunkan ke bumi oleh dewa Lowalangi. Dengan demikian pertanyaan bahwa manusia diturunkan dari mana? Tetapi sebelum mencari tahu dari mana yang diturunkannya manusia ke bumi, tidak perlu diketahui bahwa awal diciptakannya manusia Nias adalah berawal sejak Sirao kemudian Sirao menurunkan (I dada) putranya ke bumi yaitu Nias. Dengan bantuan Lowalangi maka Sirao bisa bertahan hidup dan hingga ia bisa keturunannya di bumi. Tempat para dewa yang di sebut dalam mitologi Nias adalah Teteholi Ana'a yang di sebeut langit lapisan ke-8. Di mana manusia berada pada kedamaian, kenyamanan. Teteholi Ana'a adalah rahim seorang Ibu. Lapisan ke-8 inilah manusia mempersiapkan diri untuk turun kebumi untuk menginjakkan kakinya di bumi. Jika demikian maka langit sebelum lapisan ke-8 masih ada lapisan. Itu benar! Jadi, langit lapisan pertama hingga langit lapisan ke-7 adalah tempat para dewa pencapaiannya. Barangkali pada lapisan pertama hingga ke-7 terlihat adanya peristiwa chaos. [5] Telah banyak penafsiran bahwa letak Teteholi di Nias sebagai tempat kedamaian terletak di sebuah desa di Nias yaitu "Sifalagö Gomo", juga dikatakan bahwa Teteholi terletak di "Lölöwa'u" berwujud sebatang sungai, atau penafsiran bahwa Teteholi terletak di seberang (siyefo), yaitu di Cina selatan timur alut. Namun terlepas dari tafsiran yang ada secara etimologi Teteholi bila dicari artinya maka ketemu nama sebuah desa di Nias yaitu Tetehösi / detehösi. Artinya desa yang didirikan di atas wadah yang kokoh. “Tete” berarti di atas, permukaan. Maka dengan demikian Teteholi / detehösi di artikan di atas Holi. Sekarang arti kata “Holi”. Sesuai dengan nama desa yang terletak di hulu sungai Idanö Gawo, yaitu desa Holi. Menurut orang Nias (Ama Zaro Baene; yang menjadi informan tentang hal ini di nias) bahwa “Holi” berarti tinggi, di atas, termashyur, juga di Nias terdapat pohon yang menjulang tinggi diberi nama ”Siholi”. Jadi manusia awalnya berada di tempat yang tinggi dan mulia. Akhirnya dengan demikian nama Teteholi Ana'a adalah rahim seorang ibu, dalam miologi orang Nias tubuh wanita di sebut tanah (tanö). Peran seorang laki-laki sebagi suami adalah mengolah tanah / menempa tanah, menanm di tanah yang lunak (tanö sombuyu). Semua istilah menandai persetubuhan. Sebagai hasil dari pengolahan tanah tersebut maka muncul pohon Tora'a pada tubuh wanita tersebut menandakan kehamilan. Proses kehamilan ini adalah bantu oleh angin yang bertiup. Angin merupakan alat seksualitas, dari penanaman di tanah yang lunak maka angin membawa benih tersebut untuk melebur di tanah. [6] Dari lapisan langit yang telah diuraikan di atas, maka hubungan pada tulisn ini Lowalangi sebagai pencipta jika penulis melihat “Lowalangi” adalah bukan Tuhan. Tetapi di atasnya masih ada dewa yang sebut “Tuha Si Hai” yang awalnya berada di chaos. Kita menerapkan pada kejadian pohon “Tora'a” pada bab III tulisan ini, bahwa chaos kemudian dua pohon tumbuh, dari dua pohon di antara proses tiadak berkembang. Namun yang lain bertumbuh dan pada pohon itu tumbuh kuntum lagi dari kuntum inilah muncul yang di sebut Lowalangi, dan ketiga kuntum tersebut saling bekerja sama untuk menjadikan manusia itu hidup. Jadi posisi Lowalangi sejajar dengan cerita yang dalam sebuah ritual teks dari Babel: ketika Dewa Anu telah menciptakan langit dan Ea telah membangun Apsu, tempat tinggalnya. Ea mengambil sedikt tanah liat dari Apsu… [7] artinya yang berperan untuk menjadikan manusia adalah Lowalangi sedangkan yang lainnya adalah dewa yang lebih tinggi di lapisan langit yang pertama. Berdasarkan Alkitab Sesuai dengan tafsiran pada bab III maka ajaran Alkitab tentang manusia adalah bahwa manusia diciptakan oleh Elohim dengan bentuk gambar dan rupaNya. Manusia memiliki roh yang bertubuh dan bisa bernafas sehingga disebut makhluk hidup. Hakikat manusia berdasarkan Alkitab gambar Allah. Pemahaman Antropologi teologis dari pemahaman fundamentalis mengacu pada pertanyaan pemazmur dalam Alkitab: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (Maz. 8: 5). Pertanyaan ini dari berbagai pihak telah menjawabnya dan mungkin jawaban yang diberikan berdasarkan kepentingan masing-masing. Ilmu Pengetahuan Manusia oleh ilmu pengetahuan yang begitu luar biasa memiliki kemampuan yang bisa melakukan pekerjaannya dengan cepat dan tepat, memiliki kecerdasan. Antropologi Idealistik: manusia pada kenyataan adalah Roh dan tubuh fisiknya adalah hal yang asing bagi natur sejatinya. Plato: the real of human human is Intelektualnya atau Rasio yang merupakan percikan Illahi. Juga pemahaman lain tentang manusia adalah dari Marxis berdasarkan Antrlopologi Materialistik mengatakan bahwa manusia terdiri dari materi, sedangkan roh, mental, emosi, kehidupan adalah bentuk sampingan. [8] Sebagai mana budaya Nias menyebut manusia adalah titisan dewa. Namun dari itu semua Antropologi Teologis pada umumnya menjembatani antara sains dan agama. Bagi wawasan evolusioner dalam pemahaman hakikat manusia (kita berpaling pada subjek sebagai dasar yang lebih pasti bagi pengetahuan tentang manusia-Descartes) yang memiliki kerangka manusia yang terus menerus berubah dan mengalami perkembangan yang dinamis. [9] Dari semua penjelasan yang ada di atas maka perlu dikatakan bahwa manusia memang sangat berharga dan penting. Manusia memiliki reputasi yang mulia dan baik. Juga manusia memiliki kekuatan alami yang diberikan oleh penciptanya. [1] Dr. Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hal. 87 & 100 [2] Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya… Chaos pada bagan kedua versi misionaris di Nias Sundermann dan Thomas menjadi awal dari tercipta dalam versi Alkitab. Dari kekacauan yang terjadi, dan dewa (dalam hal ini dewa Tuha Si Hai) sebelum nama Lowalangi muncul dari pohon Tora'a, yang melahirkan manusia. [3] Robert J. Priest, “Antropologi Kebudayaan: Dosa dan Misionari” dalam buku God and Culture, DA Carson dan Jhon D. Woodbridge, Editor, (Surabaya; Momentum, 2002), hal. 120 [4] Pada pohon keturunan orang Nias menurut versi Sundermann, pada pohon kedaua sebagai pencipta manusia. [5] Pemahaman ini merupakan interpretasi baru pada penelitian ini berdasarkan mitologi Nias. Untuk lebih jelasnya dapat di baca dalam syair di Nias yang di sebut “Hoho Ono Niha” atau “Fondrakö” yang menjelaskan asal usul manusia. [6] Lih. Buku tentang asal-usul orang Nias tulisan Harmmerle [7] Robert B. Coote & David Robert Ord, Pada Mulannya: Penciptaan dan Sejarah keImaman, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), hal. 5-11 [8] Anthony A. Hoekema, Manusia Ciptaan Menurut Gambar Allah, (Momentum, 2012), hal. 3-5 [9] Ted Peters dan Gaymon Bennet-penyunting, Menjembatani Sains Dan Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia-CTNS: The Centre For Theology an The Natural Science, 2006), hal. 247-255 Hoekema, Manusia Ciptaan Menurut Gambar Allah, (Momentum, 2012), hal. 3-5 [9] Ted Peters dan Gaymon Bennet-penyunting, Menjembatani Sains Dan Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia-CTNS: The Centre For Theology an The Natural Science, 2006), hal. 247-255 Hoekema, Manusia Ciptaan Menurut Gambar Allah, (Momentum, 2012), hal. 3-5 [9] Ted Peters dan Gaymon Bennet-penyunting, Menjembatani Sains Dan Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia-CTNS: The Centre For Theology an The Natural Science, 2006), hal. 247-255
Pengenalan Akan Budaya Nias Tentang Penciptaan Manusia
Orang Nias memiliki keyakinan pada dua dewa yaitu “Lowalangi” di yakini sebagai dewa alam atas, sumber segala yang baik, dan dewa “Lature Danö” sebagai dewa alam bawah yang pada umumnya menggunakan segala yang jahat. Yang menentukan hidup dan matinya manusia adalah “Lowalangi”, juga menentukan kepala-kepala suku, berada di mana-mana, segala sesuatu dan menghukum yang jahat. Sedangkan Lature Danö ”menjadi sumber segala yang jahat, mendatangkan penyakit gempa bumi, angin ribut dan lain-lain. Dalam kultus “Lowalangi” diberikan lambang burung dan ayam-burung enggang dan garuda atau juga terang dan matahari. Sedangakan “Lature Danö” dilambangkan dengan naga bulan dan kegelapan. “Lature Danö” memiliki lambang warna hitam dan merah sedangkan “Lowalangi” memiliki lambang warna kuning keemasan. [1] Sebagai orang Nias yang tinggal di Nias maupun di luar pulau Nias, harus menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang telah ada. Sebab itu adalah warisan dari nenek moyang di Nias. Melalui budayanya, orang Nias mengenal jati dirinya sebagai orang yang memiliki keyakinan akan lebih tinggi yang disebut dewa (Lowalangi) yang percaya pencipta segala sesuatu termasuk manusia di dalamnya. Pada awalnya terjadi kekacauan (peristiawa chaos) di kediaman Lowalangi. Diturunkanlah manusia di bumi ini (di Nias) yang dikenal dengan sebutan bapa-asal yaitu ada empat di antaranya, Hia, Gözö, Hulu dan Daeli. Menurut kepercayaan orang Nias Lowalangi adalah sebagai pencipta, yang kemudian hari oleh para misionaris mengambil istilah tersebut untuk menerjemahkan kata Tuhan dalam Alkitab. Jadi dengan demikian kekacauan buruk berarti buruk / jelek melainkan indah / baik. Sebab, baik Alkitab maupun budaya (dalam hal ini budaya Nias) di katakana bahwa awalnya terjadi kekacauan (chaos). Dari keadaan yang demikian Tuhan / Lowalangi yang di yakini sebagai pencipta, memulai kehidupan dengan menciptakan semuanya termasuk manusia. Barangkali tujuan utama manusia adalah untuk melanjutkan penataan ulang / untuk terus menata chaos tersebut hingga tidak ada lagi chaos / kekacauan. Penciptaan Manusia Dalam Perspektif Budaya Nias Dari Komparasi Penciptaan manusia dalam Kej. 1: 26-27 dengan Budaya Nias maka penulis memberikan beberapa perbedaan dan. Perbedaan: Alitö menggunakan material manusia adalah debu dan tanah sedangkan bahan Nias yang di gunakan adalah Alitö dan angin (berdasarkan versi Thomas), 30 angin berkumpul (berdasarkan versi dari Sundermann). Pada proses tata dalam Alkitab melalui firman Allah dan membuat manusia, sedangkan dalam budaya prosesnya mempersembahkan “noso” atau nyawaoleh Baliu (versi dari Sundermann), mengumpulkan 30 angin oleh Baliu (versi dari Thomas) Urutan dalam Alkitab: Allah berfirman setelah itu membuat manusia dalam gambarNya. Sedangkan dalam budaya: 30 angin bergabung dengan dua pohon, dari pohon kedua melahirkan “Tora'a” yang menjadi cikal bakal manusia (versi dari Sundermann), api menghasilkan satu Roh (Tuha aloloa nangi), dari pada roh itu lahir pohon “Pohon Tora'a ”(versi Thomas). Menjadi cikal bakal manusia. Hasil dalam Alkitab adalah Adam dan Hawa (manusia pertama) sedangkan hasil dari budaya menjadi leluhur orang Nias adalah Sirao yang menjadi leluhur orang nias, sebagai manusia pertama. Tujuan dalam Alkitab adalah Manusia dasar, sedangkan dalam budaya manusia diciptakan dengan tujuan berdasarkan versi dari Sundermann yaitu melanjutkan proses kehidupan sedangkan berdasarkan versi dari Thomas adalah kekuasaan di bumi. Kesamaan: Yang menjadi inti dari kisah sukses manusia Alkitab atau perspektif adalah bahwa yang menciptakan manusia yaitu Allah / Lowalangi. Penciptaan baik dalam Alkitab (Kej. 1: 2) maupun dalam perspektif budaya (Nias) kekacauan (chaos) telah mendahului. [2] Berangkat dari misionaris kedua Sundermann dan Thomas pemeran utama pada kelompok berdasarkan budaya Nias adalah Lowalangi. Sekalipun menurut Thomas Lowalangi pada kelompok di bantu oleh Baliu. Pada bagian sebelumnya telah menyatakan bahwa bahwa manusia dalam perspektif budaya Nias diciptakan dari lahirnya pohon kehidupan (yang dikenal dengan nama pohon Tora'a). Pada versinya, Sundermann dari peristiwa Chaos berkumpullah 30 angin dan menghasilkan dua pohon (ini berarti menurut Sundermann, di Nias terdapat dua atau lebih keturunan yang berbeda). Pohon pertama menjadi bagian pada “Lature Danö” yang sekarang di yakini sering mengusik kehidupan manusia di Nias, dan pohon yang kedua melahirkan tiga kuntum. Tetapi hanya kuntum yang ketiga yang terus berkembang yaitu pohon Tora'a dan dari pohon inilah muncul yang di sebut Tuha nilölö nangi, atas bantuan Lowalangi yang anggota hidup dan Baliu memberi “Noso” atau nyawa. Dari padanyalah semua manusia berasal, hingga yang di sebut “Sirao”. Alkitab sebagai hasil dari bentukan budaya yang telah mengalami perkembangan tahap dan pengasahan dari zaman maka Alkitab memberikan gamabaran yang sama tentang kasih yaitu dari peristiwa “chaos”. Sehingga dapat dipungkiri bahwa Alkitab bukan budaya, menyempurnakan kebudayaan yang ada. Yang menjadi pertanyaan adalah, jikalau Alkitab adalah hasil benukan budaya, mungkinkah Alkitab meningkatkan kebudayaan dalam kepercayaan bahkan seluruh kehidupanpan manusia sebagai makhluk berbudaya? Richard Nieburh dalam penelitiannya atas sikap gereja terhadap budaya sangat mendobrak eksistensi kekristenan di tengah-tengah budaya yang pada umumnya mengklaim bahwa budaya adalah kafir, budaya yang sangat mendobrak eksistensi kekristenan di tengah-tengah budaya yang pada umumnya tidak sesuai dengan Alkitab. Kalau diperhatikan, sebelum Alkitab terbentuk, terlebih dahulu budaya telah merasut kedalam jiwa manusia, bandingkan dengan Adam dan Hawa, budaya membunuh telah ada pada keturunan mereka, budaya ingin tahu telah ada. Dengan demikian, kekristenan tidak mengerti budaya, melainkan kekristenan dari budaya. Sebab ketika manusia berbudaya, manusia mencari dan mengenal keyakinan mereka masing-masing berdasarkan budaya tersebut sehingga mereka merumuskannya menjadi tradisi mereka hingga membentuk satu kepercayaan. demikian pula dengan Alkitab. Sebuah kutipan dalam buku “God and Culture” DA Carson dan Jhon D. Woodbridge, Editor, mengutip dari tulisan Hallowel berjudul The Histori Antropolgy, terbitan University Of Chicago, demikian: Semua kebudayaan memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan antropologi, dan jawaban tersebut memiliki otoritasserta berwujud final. Pengetahuan tradisional seperti ini dapat dicirikan sebagai antropolaogi rakyat, yaitu bangunan pengamatan, kepercayaan dan dogma-dogma sosial yang sejajar dengan pengetahuan rakyat tentang aspek-aspek lain dari fenomena dunia. Dalam kebudayan barat jaman dahulu, pengetahuan yang diwakili oleh pandangan hidup tradisional Kristiani sebagai antropologi rakyat… [3] Dari pada itu jika manusia dikatakan dalam Alkitab segambar dan serupa dengan Allah (kej. 1:27), pandangan budaya juga demikian. Sebab pencipta atau dewa dalam pandangan budaya (Keyakinan orang Nias akan pencipta) menyatakan bahwa manusia diturunkan oleh dewa ke bumi (berdasarkan miologi Nias) yang dalam versi para misionaris manusia lahir menjadi makhluk hidup dengan bantuan Lowalangi. Hal ini ketika Allah menciptakan manusia dari debu dan tanah (kej. 2: 7) sejajar dengan kaca mata budaya bahwa manusia memberikan nyawa (bhs. Nias: Noso), sehingga menjadi hidup. Alkitab bagi budaya Nias adalah dokumentasi terbesar selain apa yang orang Nias temukan dalam berbudaya. Sebab memuat banyak hal tentang kehidupan di dunia ini. Dikatakan bahwa pencipta menurut Allkitab adalah Allah / Elohim namun orang Nias dengan budayanya memahami elohim tersebut dengan antropolgi rakyat, barangkali di sini kepercayaan mereka itu menjadi teologi operasional mereka terhadap tuhan / yang dikenal yang maha tinggi (di penguasa alam atas). dari itu kita melihat untuk memahami kata Lowalangi dalam bahasa Nias. Lowalangi berdasarkan etimologi Nias adalah penguasa langit. Sehingga dikenal sebagai Tuhan bagi kekristenan saat ini di Nias (terjemahan Alkitab atas nama Tuhan). Oleh misionaris yang datang ke Nias menemukan nama Lowalangi bagi kepercayaan orang Nias pada zaman dahulu, entah mereka kesulitan dalam menerjemahkan nama Tuhan / elohim, dalam Alkitab ke bahasa Nias atau unsur politik di dalamnya untuk memudahkan penginjilan atau menghargai budaya yang ada di Nias maka nama Lowalangi digunakan untuk menyebut nama Tuha dalam bahasa Nias. Lowalangi sebagai tokoh utama pada pohon kedua [4] yang diagungkan dan nama yang dipilih sebagai nama Allah dalam agama orang Kristen. Lowalangi adalah tokoh utama dari grup manusia. Pada pohon yang melambangkan suku bangsa yang menyebut dirinya Niha (manusia), sedangkan pada pohon yang pertama menjadi roh-roh jahat yang menjadi turunan dewa Danö yang sekarang disebut daam bahasa Nias “Bekhu”. Sirao is the person is person to the keturunan dari Tuha Nilölö nangi. Sampai pada tahap ini, mitologi Nias berakhir hingga saat ini Sirao dikenal sebagai leluhur orang Nias. Secara keseluruhan dari mitologi Nias di runut from the order maka sebagai berikut: chaos-bergabunglah 30 angin-dua pohon timbul-pohon kedua melahirkan tiga kuntum-pohon tora'a (pada kuntum ke-3) -Tuha nilölö nangi- Lowalangi dan Baliu bekerja sama ciptakan manusia-Tuha börö zesolo-dua silsilah-pada silsilah kedua lahir dari keturunan Hingga Sirao. Siraolah dikenal sebagai leluhhur manusia sekarang (versi Sundermann). sedangkan versi Thomas dimulai dari tokoh Tuha-Sihai-api-rohTuha-Aloloa nangi-Tora'a-dari akar pohon Tora'a-lahirlah Sirao. Pada versi Thomas, antara Lowalangi dan lature Danö terjadi pertentangan hingga perang, untuk memperbutkan dua kuntum bunga dari pohon Tora'a. di sinilah Lowalangi berhasil menjadikan manusia bersama-sama dengan Baliu memberi manusia kehidupan. Inilah keunikan dalam budaya kita sebab kemungkinan-kemungkinan yang ada akan mengungkapkan keyakinan kita terhadap tuahn. Ternyata manusia berdasarkan budaya berguna hanya sebagai barang atau benda tak berguna, sangat berharga. Karena pencipta manusia memperjuangkannya karena penciptanya melihat bahwa yang tercipta itu bisa hidup. Sehingga diberikan nyawa kehidupan (bhs. Nias: Noso Fa'auri). Asal-usul Manusia Berdasarkan Budaya (Mitologi Nias) Jika sejak awal dikatakan pada tulisan ini bahwa manusia menurut mitologi Nias (budaya) adalah diturunkan ke bumi oleh dewa Lowalangi. Dengan demikian pertanyaan bahwa manusia diturunkan dari mana? Tetapi sebelum mencari tahu dari mana yang diturunkannya manusia ke bumi, tidak perlu diketahui bahwa awal diciptakannya manusia Nias adalah berawal sejak Sirao kemudian Sirao menurunkan (I dada) putranya ke bumi yaitu Nias. Dengan bantuan Lowalangi maka Sirao bisa bertahan hidup dan hingga ia bisa keturunannya di bumi. Tempat para dewa yang di sebut dalam mitologi Nias adalah Teteholi Ana'a yang di sebeut langit lapisan ke-8. Di mana manusia berada pada kedamaian, kenyamanan. Teteholi Ana'a adalah rahim seorang Ibu. Lapisan ke-8 inilah manusia mempersiapkan diri untuk turun kebumi untuk menginjakkan kakinya di bumi. Jika demikian maka langit sebelum lapisan ke-8 masih ada lapisan. Itu benar! Jadi, langit lapisan pertama hingga langit lapisan ke-7 adalah tempat para dewa pencapaiannya. Barangkali pada lapisan pertama hingga ke-7 terlihat adanya peristiwa chaos. [5] Telah banyak penafsiran bahwa letak Teteholi di Nias sebagai tempat kedamaian terletak di sebuah desa di Nias yaitu "Sifalagö Gomo", juga dikatakan bahwa Teteholi terletak di "Lölöwa'u" berwujud sebatang sungai, atau penafsiran bahwa Teteholi terletak di seberang (siyefo), yaitu di Cina selatan timur alut. Namun terlepas dari tafsiran yang ada secara etimologi Teteholi bila dicari artinya maka ketemu nama sebuah desa di Nias yaitu Tetehösi / detehösi. Artinya desa yang didirikan di atas wadah yang kokoh. “Tete” berarti di atas, permukaan. Maka dengan demikian Teteholi / detehösi di artikan di atas Holi. Sekarang arti kata “Holi”. Sesuai dengan nama desa yang terletak di hulu sungai Idanö Gawo, yaitu desa Holi. Menurut orang Nias (Ama Zaro Baene; yang menjadi informan tentang hal ini di nias) bahwa “Holi” berarti tinggi, di atas, termashyur, juga di Nias terdapat pohon yang menjulang tinggi diberi nama ”Siholi”. Jadi manusia awalnya berada di tempat yang tinggi dan mulia. Akhirnya dengan demikian nama Teteholi Ana'a adalah rahim seorang ibu, dalam miologi orang Nias tubuh wanita di sebut tanah (tanö). Peran seorang laki-laki sebagi suami adalah mengolah tanah / menempa tanah, menanm di tanah yang lunak (tanö sombuyu). Semua istilah menandai persetubuhan. Sebagai hasil dari pengolahan tanah tersebut maka muncul pohon Tora'a pada tubuh wanita tersebut menandakan kehamilan. Proses kehamilan ini adalah bantu oleh angin yang bertiup. Angin merupakan alat seksualitas, dari penanaman di tanah yang lunak maka angin membawa benih tersebut untuk melebur di tanah. [6] Dari lapisan langit yang telah diuraikan di atas, maka hubungan pada tulisn ini Lowalangi sebagai pencipta jika penulis melihat “Lowalangi” adalah bukan Tuhan. Tetapi di atasnya masih ada dewa yang sebut “Tuha Si Hai” yang awalnya berada di chaos. Kita menerapkan pada kejadian pohon “Tora'a” pada bab III tulisan ini, bahwa chaos kemudian dua pohon tumbuh, dari dua pohon di antara proses tiadak berkembang. Namun yang lain bertumbuh dan pada pohon itu tumbuh kuntum lagi dari kuntum inilah muncul yang di sebut Lowalangi, dan ketiga kuntum tersebut saling bekerja sama untuk menjadikan manusia itu hidup. Jadi posisi Lowalangi sejajar dengan cerita yang dalam sebuah ritual teks dari Babel: ketika Dewa Anu telah menciptakan langit dan Ea telah membangun Apsu, tempat tinggalnya. Ea mengambil sedikt tanah liat dari Apsu… [7] artinya yang berperan untuk menjadikan manusia adalah Lowalangi sedangkan yang lainnya adalah dewa yang lebih tinggi di lapisan langit yang pertama. Berdasarkan Alkitab Sesuai dengan tafsiran pada bab III maka ajaran Alkitab tentang manusia adalah bahwa manusia diciptakan oleh Elohim dengan bentuk gambar dan rupaNya. Manusia memiliki roh yang bertubuh dan bisa bernafas sehingga disebut makhluk hidup. Hakikat manusia berdasarkan Alkitab gambar Allah. Pemahaman Antropologi teologis dari pemahaman fundamentalis mengacu pada pertanyaan pemazmur dalam Alkitab: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (Maz. 8: 5). Pertanyaan ini dari berbagai pihak telah menjawabnya dan mungkin jawaban yang diberikan berdasarkan kepentingan masing-masing. Ilmu Pengetahuan Manusia oleh ilmu pengetahuan yang begitu luar biasa memiliki kemampuan yang bisa melakukan pekerjaannya dengan cepat dan tepat, memiliki kecerdasan. Antropologi Idealistik: manusia pada kenyataan adalah Roh dan tubuh fisiknya adalah hal yang asing bagi natur sejatinya. Plato: the real of human human is Intelektualnya atau Rasio yang merupakan percikan Illahi. Juga pemahaman lain tentang manusia adalah dari Marxis berdasarkan Antrlopologi Materialistik mengatakan bahwa manusia terdiri dari materi, sedangkan roh, mental, emosi, kehidupan adalah bentuk sampingan. [8] Sebagai mana budaya Nias menyebut manusia adalah titisan dewa. Namun dari itu semua Antropologi Teologis pada umumnya menjembatani antara sains dan agama. Bagi wawasan evolusioner dalam pemahaman hakikat manusia (kita berpaling pada subjek sebagai dasar yang lebih pasti bagi pengetahuan tentang manusia-Descartes) yang memiliki kerangka manusia yang terus menerus berubah dan mengalami perkembangan yang dinamis. [9] Dari semua penjelasan yang ada di atas maka perlu dikatakan bahwa manusia memang sangat berharga dan penting. Manusia memiliki reputasi yang mulia dan baik. Juga manusia memiliki kekuatan alami yang diberikan oleh penciptanya. [1] Dr. Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hal. 87 & 100 [2] Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya… Chaos pada bagan kedua versi misionaris di Nias Sundermann dan Thomas menjadi awal dari tercipta dalam versi Alkitab. Dari kekacauan yang terjadi, dan dewa (dalam hal ini dewa Tuha Si Hai) sebelum nama Lowalangi muncul dari pohon Tora'a, yang melahirkan manusia. [3] Robert J. Priest, “Antropologi Kebudayaan: Dosa dan Misionari” dalam buku God and Culture, DA Carson dan Jhon D. Woodbridge, Editor, (Surabaya; Momentum, 2002), hal. 120 [4] Pada pohon keturunan orang Nias menurut versi Sundermann, pada pohon kedaua sebagai pencipta manusia. [5] Pemahaman ini merupakan interpretasi baru pada penelitian ini berdasarkan mitologi Nias. Untuk lebih jelasnya dapat di baca dalam syair di Nias yang di sebut “Hoho Ono Niha” atau “Fondrakö” yang menjelaskan asal usul manusia. [6] Lih. Buku tentang asal-usul orang Nias tulisan Harmmerle [7] Robert B. Coote & David Robert Ord, Pada Mulannya: Penciptaan dan Sejarah keImaman, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), hal. 5-11 [8] Anthony A. Hoekema, Manusia Ciptaan Menurut Gambar Allah, (Momentum, 2012), hal. 3-5 [9] Ted Peters dan Gaymon Bennet-penyunting, Menjembatani Sains Dan Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia-CTNS: The Centre For Theology an The Natural Science, 2006), hal. 247-255 Hoekema, Manusia Ciptaan Menurut Gambar Allah, (Momentum, 2012), hal. 3-5 [9] Ted Peters dan Gaymon Bennet-penyunting, Menjembatani Sains Dan Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia-CTNS: The Centre For Theology an The Natural Science, 2006), hal. 247-255 Hoekema, Manusia Ciptaan Menurut Gambar Allah, (Momentum, 2012), hal. 3-5 [9] Ted Peters dan Gaymon Bennet-penyunting, Menjembatani Sains Dan Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia-CTNS: The Centre For Theology an The Natural Science, 2006), hal. 247-255
Komentar
Posting Komentar