Renungan Ibadah P.A
"JANGAN JEMU-JEMU UNTUK BERDOA" : KELUARAN 32:7-14
Sebagai pekerja Buruh di perkebunan kelapa sawit milik Torus Ganda, memang tidak mengenakan (keluh kesah beberapa karyawan yang notabene warga jemaat BNKP), pekerjaan berat, tuntutan peraturan (yang kadang kala berubah) membuat setiap kita serasa tidak ada kebebasan. "Seandainya" milik sendiri, kita mau buat apa perkebunan ini? Tentunya masing-masing kita berangan-angan.
Terlepas dari semua itu, sebelum masa kita ini, berdasarkan catatan Alkitab bahwa ada sekelompok orang yang jumlahnya sangat banyak. Mereka dilatih sebagai budak di tanah Mesir pada masa itu. Kalau kita membaca di dalam Alkitab, sungguh nasib mereka tidak menguntungkan meskipun bagi mereka telah dijanjikan berkat melimpah. Dan mereka dikenal dengan sebutan " Orang Israel" .
Suatu ketika orang banyak itu menjerit (mungkin seperti kita saat ini di beberapa tempat mengeluh "capek" dengan keadaan sekarang ini) dan jeritan itu sudah sampai kepada yang maha tinggi yaitu TUHAN. Sehingga melalui seorang yang tidak terkenal namanya di antara banyak orang, kaku berbicara, TUHAN membebaskan sekelompok orang banyak itu dari jajahan, yaitu Musa, dipilih TUHAN menjadi abdi-Nya untuk mewujudkan janji-janji-Nya kepada orang banyak itu.
Selepasnya mereka dari penjajahan itu, orang Israel itu harus melewati padang gurun atas kehendak TUHAN bagi mereka guna mempersiapkan mental mereka untuk menjadi bangsa yang besar, bangsa yang kuat dan bangsa pilihan.
Yesus setelah melewati masa pembaptisan-Nya, Ia harus melewati padang gurun untuk dicobai oleh Iblis guna mempersiapkan pelayanan-Nya yang luar biasa.
Selama perjalanan di padang gurun, orang Israel itu menerima undang-undang yang mengatur pola kehidupan mereka sebagai bangsa pilihan. Salah satunya TUHAN memberikan perintah kepada mereka yang disebut Hukum Taurat : "jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun..." demikian sepenggal kalimatnya (Kel. 20:4). Namun kini, orang banyak itu telah rusak pikirannya, mereka membentuk patung bagi mereka menyerupai anak lembu yang terbuat dari emas (Kel. 32:1-6). Celakanya, buatan tangan mereka itu di bawah komando Harun, dijadikan oleh mereka sebagai tuhan. Mereka menyerukan dengan tari-tarian, dengan sorak-sorai. Kesempatan itu mereka lakukan saat Musa, abdi Allah itu, naik ke gunung Sinai untuk menerima Undang-undang dari TUHAN.
Hal tersebut telah membangkitkan amarah yang besar di hati TUHAN. Sehingga Ia berniat membinasakan orang-orang itu. Kemarahan yang sangat dahsyat itu, dikatakan dalam Alkitab, "...supaya Aku membinasakan mereka...". Ini adalah kemarahan yang sangat geram.
Siapalah Musa, hingga TUHAN mendengar ketika ia mengeluh kepada TUHAN, katanya " Mengapakah, TUHAN,...ingatlah akan janji-Mu..."(Kel. 32:11-12). Dalam permohanan itu, Musa tidak meninggikan dirinya di hadapan TUHAN, namun Musa menyadari bahwa TUHANlah yang telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir. Meskipun di tengah kemarahannya, TUHAN berkata kepada Musa bangsa yang engkau pimpin keluar dari Mesir (ay.7). Sepertinya ada dialog. Tuhan menghargai jeri lelah Musa yang memimpin orang Israel keluar dari Mesir dan Musa mengingat bahwa TUHAN lah yang telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir. Hasil dari dialog itu maka terdapat suatu kesepakatan, keputusan bahwa Tuhan membatalkan amarah-Nya, tidak melukai bangsa itu dengan kegeraman-Nya. Meskipun nantinya Musalah yang marah kepada orang Israel (Kel. 32:19 & 27).
Yang menjadi pelajaran bagi kita melalui perenungan ini :
- Penyembahan kepada benda-benda, jimat-jimat, adalah membangkitkan amarah TUHAN.
- Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Sesuai tema perenungan ini : jangan jemu-jemu berdoa. Doa bagi orang Kristen merupakan nafas kehidupan, begitu kata Martin Luther.
- Amarah tidaklah membawa pada puncak ketenangan. Menyesali sebelum melakukan, dapat mencapai kebaikan. Kalau saja Tuhan mengalami amarah-Nya, mengapa kita susah memaafkan sesama kita?
- Setiap perjalanan kita, TUHAN telah mengetahuinya, dan untuk mempersiapkan kita menerima janji-janji-Nya, terkadang kala Tuhan memakai situasi pekerjaan yang sulit ini,.
Berjalan di padang Gurun bukanlah hal yang menyenangkan, sebagaimana Yesus di padang gurun untuk dicobai oleh Iblis sangat menyakitkan, menekan.
Mungkin beban kita dalam pekerjaan ini, serasa berjalan di padang Gurun. Utang-piutang, rasanya menyerupai padang gurun.
Melalui Musa kita mengajarkan bahwa berdoa kepada Tuhan, pasti akan didengarkan-Nya.
TUHAN memberkati....shalom.
Komentar
Posting Komentar