Jangan melupakan utang janji
"Kepedulian Terhadap Disabilitas" : II Samuel 9:1-8
Sebagai raja yang punya kuasa untuk memerintah, Daud bisa saja membalaskan dendam amarahnya kepada Saul dengan memerintahkan setiap prajurit kerajaan, para tentara untuk menelantarkan keturunan Saul, membuang mereka di luar kota.
Bisa dikatakan Daud adalah musuh bebuyutan bagi Saul, yang melahirkan dendam di dalam hatinya. Namun bagaimana Daud memperlakukan keturunan Saul? Apa yang Daud katakan sebagai raja di tengah-tengah orang Israel? Penting untuk kita perhatikan nas khotbah hari ini (Minggu, 27 September 2020):
1. "Masih Adakah....Tidak Adakah Keluarga
Saul Yang Tinggal?" (ay. 1 & 3)
Saya membayangkan keadaan Mefibosyet cucunya Saul, anak Yonatan saat itu sangat takut dan gemetar, sebab yang mencari dan menanyakan keberadaan mereka adalah seorang raja yang notabene adalah musuh kakeknya. Namun apa yang terjadi ketika raja itu meneruskan perkataannya?.
Sesuatu yang tidak diduga terjadi, Daud berkata : "Maka aku akan menunjukkan kasihku....kasih yang dari Tuhan..."(ay. 1&3). Sangat mengharukan, membuat Mefibosyet dan yang lainnya lega, rasanya seumpama beban berat terangkat dari bahunya.
Daud semakin menyatakan maksud pencariannya itu bukan untuk mencelakakan melainkan untuk menunjukan kasihnya; kasih yang dari Tuhan. Hal ini sejajar dengan perkataan Tuhan kepada bangsa Israel di Pembuangan bahwa rancangan Tuhan atas mereka adalah rancangan hari depan yang penuh harapan (Yer. 29:11). Tuhan menjanjikan harapan bagi mereka yang setia pada perjanjian akan mendapat bagian dari perjanjian itu yakni keselamatan.
Daud berkata : "....jangan takut aku akan menanggung setiap bebanmu, merawatmu, menjagamu" (ay. 7)".
"Bukanlah hal yang gampang untuk menghapuskan dendam.
Persahabatan mengubah dendam menjadi kasih.
Tuhan adalah Allah perjanjian".
Daud masih mengingat kebaikan Yonatan yang telah melepaskannya dari cengkeraman ancaman Saul (I Sam. 20:14&42). Dan ketika ia telah menjadi raja di antara kaum Israel, janji kebaikan itu digenapi olehnya kepada Mefibosyet anak Yonatan keturunan Saul.
Saat Adam dan Hawa dalam ketakutan, Allah mencari mereka.
Abraham dipanggil dan diutus menjadi saluran berkat, Allah menjanjikan keturunan baginya.
Yakub diubahkan menjadi bagian dari saluran berkat Allah, ia mendapat janji.
Bagi manusia dan dunia, Allah menjanjikan keselamatan melalui Yesus yang adalah Mesias.
Semuanya itu telah digenapi walaupun kita adalah hanya seekor anjing mati. Tiada guna layaknya dibuang karena kenajisan.
2. Tuhan Yang Menjanjikan Adalah Tuhan Yang
Menepati.
Penulis kitab I Yohanes menyatakan bahwa Allah menepati setiap janjinya berdasarkan kasih-Nya (I Yoh. 4:8-12). Melalui penyataan-Nya sebagai Anak yaitu Yesus Kristus, Allah menepati janji-Nya. Yesus telah menanggung setiap beban dosa kita melalui jalan salib. Dan inilah kuatnya perjanjian Allah dengan nenek moyang kita hingga sekarang janji itu telah sampai kepada kita, Tuhan masih mencari kita.
Begitu banyak janji Tuhan dan begitu banyak janji itu yang telah terjadi. Apakah kita pernah merenungkan : "Siapakah Aku"
Kesimpulan:
Ini adalah tahun 2020 tahun yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di masa-masa Pandemi Covid19, kita harus melangsungkan ibadah dengan tuntutan New Normal :Jaga jarak jangan berdekatan, Pakai masker, cuci tangan.
Segala sesuatu ada masanya (Pkh. 3:1). Situasi saat ini bukanlah kebetulan. New Normal mengingatkan kita akan pola hidup sehat, mengajarkan kita untuk tidak boros dalam hubungan komunikasi dengan lingkungan, dan banyak hal lain yang harus menjadi pelajaran bagi kita di situasi Pandemi Covid19 ini.
155 tahun, injil telah diberitakan dipulau Nias oleh Ludwing Erns Denninger, seorang dari Jerman utusan badan Misi RMG (Rheinische Missions Gesellschaft) tepatnya dimulai pada 27 September 1865.
Dan setiap tahunnya kita sebagai Ono Niha terus mengenang akan kedatangan Misionaris tersebut dengan perayaan Yubilium sekaligus hari berdirinya BNKP.
Oleh karena kasih Tuhan, berita Injil (Alkitab) sampai di Pulau Nias. Ini artinya bahwa Tuhan juga mencari kita Ono Niha untuk diselamatkan.
Sekarang kita diingatkan dan dihimbau; melalui pola hidup New Normal di tengah Pandemi Covid19 saat ini, mari kita mengingat dan menepati setiap janji-janji kita terhadap:
Suami-istri, janji kepada anak, janji kepada sahabat.
Terlebih janji kepada Tuhan. Mungkin pernah berjanji dalam doa kepada Tuhan: jikalau aku sembuh ya Tuhan, aku akan rajin beribadah, datang di gereja setiap hari minggu. Ataupun jika aku mendapatkan keturunan, aku janji berhenti dan meninggalkan perjudian dan mabuk-mabukan.
New Normal Era mengajarkan kita untuk menyayangi keluarga kita, sahabat kita, komunitas kita dan semua orang siapapun.
Sebagaimana dalam ayat hafalan Minggu ini:
"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat. 22:39b)
Komentar
Posting Komentar