Khotbah Minggu, 12 Februari 2023

KEBAHAGIAAN ORANG YANG HIDUP MENURUT TAURAT TUHAN” : MAZMUR 119:1-8

Selamat berbahagia (atau turut bersukacita)........

Begitulah sepenggal kalimat terpampang di pinggir jalan melalui karangan bunga (papan bunga) disekitaran rumah yang melangsungkan pesta pernikahan. Setiap orang : sanak-saudara, kerabat kerja, sahabat dan terlebih kedua mempelai berharap akan/dan pasti bahagia karena bisa membentuk keluarga baru melalui pernikahan. 

Sudahkah anda bahagia? Pertanyaan spontan ini mengajak kita berpikir; apa yang membuat saya bahagia? Di beberapa tempat ada saja orang yang berkata : bahagianya hari ini karena bisa bertemu dengan kawan lama setelah bertahun-tahun berpisah sejak tamat dari bangku sekolah, bagi muda-mudi; merasa bahagia karena bisa bersama dengan pacarnya (terlebih di momen tertentu, seperti Hari Valentine). Bagi mereka yang hidupnya pas-pasan (seperti anak kost) merasa bahagia jika mendapat kesempatan menikmati hidangan/menu yang mewah. Dan masih banyak lagi yang merasa bahagia dengan apa yang didapatkan/diterima (dirasakan). 

Tidak sedikit orang yang mengidentikan kebahagiaan itu dengan rasa senang, sehingga tidak heran jika mereka mengekspresikan kebahagiaan itu dengan berbagai macam perayaan pesta pora.

Bacaan kita dari kitab Mazmur kali ini, melarang bahwa kebahagiaan yang didapatkan melalui apa yang dirasakan atau didapatkan adalah kebahagiaan yang hanya bersifat sementara. Perhatikanlah berikut ini :

1. “Berbahagialah Orang-orang......” (ay. 1-3)

Bagian ini merupakan penegasan kembali perkataan pemazmur pada pasal 1 tentang perbedaan antara orang benar dan orang fasik. Kata “ Berbahagialah ” disini diterjemahkan dari kata Ibrani yaitu “ aserei ” dari kata “ esher ” artinya berbahagialah (Ingg. Happiness, Blessed). Bahagia artinya ada perasaan senang atau tenteram, terbebas dari yang menyusahkan. Bahagia yang dimaksud adalah bahagia dari dalam hati, yang tumbuh atau muncul dari dalam diri sendiri, tidak dipengaruhi oleh keadaan sekitar di dunia ini karena bahagia sesungguhnya datangnya dari Tuhan. Sebagaimana dikatakan Yesus : ".....dalam dunia kamu menderita penganiayaan...." (Yoh. 16:33).

Tidak dapat dipungkiri bahwa di dunia ini tidak ada tempat atau waktu bagi kita yang membawa kesenangan, tanpa kesusahan, karena memang dunia ini penuh dengan keterbatasan dalam waktu, tempat. Kalau kita berkata : kita bahagia karena bertemu kawan lama, suatu saat akan berpisah lagi, bila berkata : bahagia karena bisa menikah, suatu saat dalam keluarga ada perselisihan karena perbedaan pendapat. Jika kebahagiaan diukur dengan harta, jabatan; suatu ketika uang akan habis, jabatan akan berakhir. Bukankah kebahagiaan juga akan berakhir? Siapa mereka yang akan bahagia? Kebahagiaan/berkat apa yang tidak akan berkahir? 

Pemazmur dalam pasal ini menyebutkan beberapa hal, antara lain:

A. Orang-orang yang hidupnya tidak bercela.

B. Mereka yang hidup menurut Taurat TUHAN.

C. Orang-orang yang memegang peringatan-peringatan  Tuhan.
D. Mereka yang mencari Tuhan dengan sepenuh hati.

e. Mereka yang tidak melakukan kejahatan.

F. Mereka yang hidup menurut jalan yang ditunjukan Tuhan.

2. Titah/Taurat/Ketetapan/Perintah/Hukum dari Tuhan yang Menjadi Patokan/Ukuran Kebahagiaan (ay.4-7)

Menikmati kebahagiaan karena senang dengan apa yang didapatkan/dirasakan “mungkin” melalui harta, jabatan, kebersamaan dengan keluarga atau apapun itu yang menyenangkan kita, adalah benar. Namun semuanya itu tidaklah menjadi ukuran untuk kita bahagia karena suatu saat dalam waktu tertentu akan berakhir. Pada bagian ini, kita diingatkan bahwa Tuhan menghendaki kita bahagia melalui jalan yang ditunjukan-Nya yaitu titah-titah-Nya, ketetapan-ketetapan-Nya dalam hukum Tuarat pertama sampai dengan sepuluh Ia berikan untuk menunjukkan apa yang harus kita buat.

3. “......janganlah tinggalkan aku sama sekali” (ay.8)

Seorang Pemazmur tidak lupa untuk memohon penyertaan TUHAN dalam hidupnya meskipun ia telah hidup tanpa bercela, bergantung pada perintah TUHAN. Di sini kita tahu satu hal penting bahwa jauh dari TUHAN adalah jauh dari kebahagiaan. Sebagaimana dikatakan oleh Yesus : “carilah dahulu kerajaan Allah....maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat. 6:33). 

Seruan Yesus di kayu salib : “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” (Mar. 15:34) telah menggambarkan kepada kita ketika hidup ini tidak dalam lindungan TUHAN. Yesus dalam keadaan-Nya sebagai manusia, seolah Allah tidak berpihak kepada-Nya karena keberdosaan (menanggung dosa), dibuat berdosa.


Melalui perenungan ini, kita diajarkan beberapa hal yaitu:

1. Dunia ini hanya menawarkan kebahagiaan  

 sementara, penuh dengan ketidak pastian,        keraguan-raguan.

2. Kebahagiaan tidak didapatkan dari jimat-jimat, menjalankan kepercayaan lama (keyakinan nenek moyang) tidak membawa kebahagiaan.

3. Kebahagiaan hanya didapatkan di dalam TUHAN melalui peringatan-peringatan-Nya. Yesus berkata : “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.......... di dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkan hatimu.” (Yoh. 14:27; 16:33).


OLEH : Pdt. REZEKI MURNI ZENDRATӦ, S.Th


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khotbah Pada Ibadah Pemberkatan Nikah

II Samuel 1:17-27

Renungan Ibadah P.A