Bersaat Teduh
" KASIH SETIA ALLAH KEPADA UMAT-NYA" (KELUARAN 17:1-7).
Makanan dan minuman adalah kebutuhan setiap orang yang ada di dunia ini bahkan makhluk hidup yang lain ciptaan Tuhan membutuhkan makanan dan minuman. Karena salah satu kebutuhan pokok manusia adalah makan dan minum dan ini sudah dikenal sejak dahulu kala bahwa tanpa makan dan minum, maka makhluk hidup yang ada di bumi ini akan mati.
Bacaan kita dari kitab Keluaran menjelaskan betapa pentingnya kebutuhan jasmani itu namun lebih penting setiap manusia memikirkan kebutuhan rohaninya yakni masalah iman kepercayaannya kepada Tuhan. Tidak sedikit orang yang terbunuh hanya karena makanan, minuman, memperebutkan jatah makanan.
Tidaklah jauh beda kita dengan bangsa Israel yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa. Dari Mesir mereka menelusuri Laut Teberau, padang Gurun mereka lewati, kadang berhenti membuat kemah, siang dan malam tanpa mengenal lelah mereka terus berjalan. Dan Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka: laut Teberau terbelah di hadapan mereka, tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam oleh kuasa Tuhan memimpin perjalanan mereka, ketika mereka lapar, Tuhan memberikan mereka makanan dari manna untuk dimakan. Hal ini sejalan dengan pelayanan Yesus ketika Ia memberi makan lima ribu orang hanya lima roti dan dua ikan, semua berkecukupan (bdk. Luk. 9:16-17; Mat. 14:19-20).Hingga pada bacaan kita kali ini dari kitab Keluaran mengisahkan kepedulian Allah terhadap bangsa Israel yang adalah bangsa pilihan-Nya,
Perhatikanlah:
1. "Mengamuklah bangsa itu kepada Musa ( Ay.1-3)
Di sini kita melihat kemarahan yang sangat besar di antara bangsa Israel dengan Musa. Dituliskan: "....mulailah mereka itu melawan Musa,...." (Ay.1) ini bisa jadi unjuk rasa besar-besaran, banyak orang menyampaikan aspirasinya, pasti mereka berteriak: Musa!!! Musa!!! Kami haus!! Turunkan dia!!! dari jabatannya.
Yesus ketika ditangkap dan diadili oleh Mahkamah agama, di hadapan Pilatus, orang-orang Yahudi berteriak, salibkan Dia, salibkan Dia (bdk. Luk. 23:21).
Kemarahan bangsa itu bukanlah teriakan biasa saja, mari kita melihat kalimat selanjutnya di ayat 3: ada kalimat, bersungut-sungutlah bangsa itu, dan lagi kata-kata bangsa itu "....untuk membunuh kita,....? yang besar.
"Kemarahan membuat seseorang lupa diri; lupa siapa dia."
Bangsa Israel lupa akan penyertaan Tuhan kepada mereka selama dari Mesir, di Laut Teberau, di Padang Gurun, siang dan malam. Karena kemarahan itu mereka lupa diri, lupa bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah, kehilangan akal sehat.
2. Optimis bukan pesimis (Ay.4)
Sudah sewajarnya bila Musa membuat surat pengunduran diri dari jabatannya sebagai pemimpin bangsa Israel saat itu, keseringan diomelin, dicaci-maki, dimarah lagi. Seandainya saat itu ada Laptop Toshiba atau Acer, mungkin saja Musa langsung mengetik surat pengunduran diri dialamatkan ke para Tua-tua Israel. Tapi apalah daya, sepuluh hukum Taurat saja, dituliskan di dua loh batu.
Dari sikap Musa hendak melarang kita saat ini bahwa menjadi pemimpin bukanlah manja, tidak menyerah begitu saja (ini urusannya Tuhan, dan aku hanya hambanya Tuhan. Jadi aku harus bertanya kepada Tuhan). Tuhan lebih tau.
Optimis bukan pesimis; inilah sikap kepemimpinan Musa.
Lalu berserulah Musa kepada Tuhan.....apakah yang akan dilakukan kepada bangsa ini?
Seruan Musa kepada Tuhan bukan menunjukan apa yang sudah ia lakukan kepada bangsa itu, tidak menuntut Tuhan; sudah kukatakan aku malah tidak bisa terus menyuruhku....tetapi Musa meminta petunjuk kepada Tuhan.
3. Tuhan tidak membiarkan umat-Nya (ay.5-7 )
Musa adalah hamba Allah dan bangsa Israel adalah umat pilihan Allah, di antara mereka terjadi pertengkaran, kejahatan, perbedaan paham.
Namun atas permintaan Musa tentang masalah bangsa itu, Tuhanpun menjawab Musa: "....berjalanlah di depan bangsa itu.....beserta para tua-tua Israel, dan tongkatmu...."
Hal ini menunjukkan kepedulian Tuhan yang terus menerus tidak pernah putus. Ketika Musa memukul gunung batu yang menyuruh Tuhan kepadanya, mengingatkan bangsa itu dan juga Musa akan mengalami peristiwa besar dan penting dalam perjalanan mereka dari Mesir. Terbelahnya laut Teberau. Ini artinya penyerahan diri ke dalam kuasa Tuhan.
Firman Tuhan: "maka Aku akan berdiri di sana...." (Ay.6). Tuhan mengetahui apa yang kita butuhkan. Yesus mengecam kekuatiran pengikut-Nya bahwa Tuhan tahu keperluan kita (bdk. Mat. 6:32b).
Situasi saat ini
Lebih besar dari kemarahan kita adalah bertahun-tahun kita di sini namun Tuhan masih mencukupkan kebutuhan kita. Bekerjalah dengan baik dan benar, jujur, disiplin dan di atas semuanya itu, utamakan berdoa. Tanyakan kepada Tuhan apa yang akan dilakukan terhadap pekerjaan ini?
Ingat, Tuhan akan berdiri di tengah areal kerja, bahkan di balik pohon kelapa Sawit!!
Lakukanlah sesuai dengan firman Tuhan dan berdoa. Maka kalau dari gunung batu keluarlah air, apalagi pohon kelapa sawit, bila Tuhan campur tangan, maka lebatlah buahnya.
Dan dari semuanya itu adalah syukur, bukan bersungut-sungut.
Ayat hafalan:
Mazmur 107:1
"Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik. Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."
Komentar
Posting Komentar